Keutamaan Sahabat Dalam Al-Quran

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Keutamaan Sahabat Dalam Al-Quran

Post  Admin on Sun Jun 28, 2009 2:47 pm

Keutamaan Sahabat Dalam Al-Quran


Kaum muslimin Ahlussunnah berkeyakinan bahwa para sahabat Nabi seluruhnya adalah ‘udul. ‘Udul artinya tidak berdusta secara sengaja terhadap Rasulullah SAW dikarenakan kekuatan iman, ketakwaan serta akhlak dan kepribadian mereka. Hal ini tidak berarti bahwa para sahabat adalah ma’shum (suci, terpelihara) dari dosa, kesalahan dan kekeliruan. Tak seorang pun yang mengatakan hal itu.

Kemuliaan-kemuliaan para sahabat bukan hanya berasal dari pengakuan Rasulullah SAW saja. Dalam Al-Quran, berkali-kali Allah memuji para sahabat dengan firman-Nya.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. (QS. Al-Baqarah: 143)

Mungkinkah Allah memilih saksi dari kalangan para pendusta? Maha suci Allah.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran: 110)

Bahkan keutamaan dan kemulian para sahabat telah disebutkan dalam kitab-kitab umat terdahulu.

Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath: 29)

Setelah usai perang Tabuk (perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah SAW), turunlah ayat berikut ini:

Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, (QS. At-Taubah: 117)

Lebih khusus lagi, Allah memuji para sahabat yang ikut dalam Baiat Ridhwan:

Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al-Fath: 18)

Juga para Asabiqunal Awwalun (yang paling awal Islamnya) dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)

Dalam ayat lain, Allah memberikan gelar bagi para Muhajirin dengan gelar “orang-orang yang benar”. Sedangkan Anshar digelari “orang-orang yang beruntung”.

(Juga) bagi para fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS. Al-Hasyr: 8-9)

Dalam ayat setelahnya, Allah menyebutkan sifat-sifat para sahabat:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Hasyr: 10)

Kendatipun kita diperintahkan untuk mengikuti para sahabat, akan tetapi tingkat kemuliaan mereka tidaklah sama, melainkan berbeda antara sahabat dengan sahabat lainnya. Tidaklah sama antara para sahabat yang dijamin oleh Rasulullah SAW akan masuk surga dengan yang tidak. Tidak sama pula antara mereka yang selalu ikut berjihad bersama Rasulullah SAW, menjadi utusan beliau untuk berdakwah ke negeri-negeri lain, dengan yang tidak. Namun mereka semua masuk ke dalam golongan Ashabul Yamin (golongan kanan) yang disebutkan dalam Al-Quran:

Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. (QS. Al-Waqi’ah: 10-14)

Berikut ini bukti perlindungan Allah terhadap Rasulullah:

Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal: 62-63)

Selain ayat-ayat Al-Quran, banyak sekali hadis-hadis Nabi yang menyebutkan keutamaan dan kemuliaan para sahabat, di antaranya adalah,

Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku. Andaikan salah seorang di antara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan mencapai satu Mudd (cupak) atau separonya dari yang telah mereka (para sahabat) infakkan. (Mashabih Sunnah)

Abdul Qadir Al-Baghdadi berkata, “Kaum muslimin Ahlussunnah bersepakat (berkeyakinan) bahwa para sahabat yang ikut serta bersama Rasulullah SAW dalam perang Badar, mereka semua masuk surga. Demikian pula mereka yang ikut serta dalam perang Uhud, kecuali Qazman yang dikecualikan oleh berita yang ada. Begitu juga mereka yang ikut serta dalam Baiat Ridhwan di Hudaibiyah…”

Al-Khatib Al-Baghdadi berkata, “Bahkan andaikan tidak ada sama sekali penjelasan dari Allah maupun Rasulullah SAW mengenai mereka (para sahabat) sebagaimana yang telah kita sebutkan, maka cukuplah perbuatan-perbuatan mereka bersama Rasulullah, yaitu berhijrah, berjihad, membela, mempertaruhkan harta dan jiwa, membunuh ayah dan anak (dalam peperangan), saling mengingatkan dalam masalah agama, serta kekuatan iman dan keyakinan mereka, cukuplah semua itu menjadi bukti kejujuran dan ketulusan mereka serta menunjukkan keyakinan bahwa mereka adalah sebaik-baik orang yang dimuliakan dan disucikan daripada orang-orang setelah mereka.”

Imam Abu Zur’ah berkata, “Jika kamu melihat seseorang menghina salah seorang sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang Zindik, karena Rasulullah adalah haq (benar), Al-Quran adalah haq, dan yang menyampaikan Al-Quran dan Sunnah ini kepada kita adalah mereka (para sahabat). Sesungguhnya mereka ingin mencederai para saksi kita (para sahabat) untuk menanggalkan Al-Quran dan Sunnah. Padahal merekalah yang sebenarnya lebih berhak untuk dicederai, mereka adalah para Zindik”.

Sebagaimana kita ketahui, para sahabat adalah orang-orang yang telah menyampaikan pesan Allah dalam Al-Quran dan pesan Rasulullah dalam Sunnah kepada generasi setelah mereka. Oleh karena itu, para musuh Islam berusaha melenyapkan ajaran Islam dengan cara mencemarkan nama baik orang-orang yang membawanya. Mereka melakukan semua itu agar orang beranggapan bahwa Rasulullah SAW telah gagal mendidik para sahabatnya, sehingga orang akan ragu terhadap kebenaran yang dibawa oleh para sahabat. Wallahu A’lam Bis Showab.

Admin
Admin

Jumlah posting : 33
Join date : 12.06.09

Lihat profil user http://isykarima.forumotion.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik